Senin, 16 Januari 2012

MENGANALISA POTENSI PESERTA DIDIK


MENGANALISA POTENSI PESERTA DIDIK


Oleh :
SRI RAHAYU, S.Pd

PELATIHAN JARDIKNAS
2007

 I.  PENDAHULUAN
Potensi  sumber daya manusia merupakan  aset nasional  sekaligus  sebagai modal dasar pembangunan bangsa. Potensi  ini hanya dapat digali dan dikembangkan  serta dipupuk secara efektif melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah dan terpadu,  yang  dikelola  secara  serasi  dan  seimbang  dengan  memperhatikan pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan optimal. Oleh karena itu, strategi manajemen  pendidikan  perlu  secara  khusus memperhatikan  pengembangan  potensi peserta  didik  yang memiliki  kemampuan  dan  kecerdasan  luar  biasa  (unggul),  yaitu dengan  cara penyelenggaraan program pembelajaran  yang mampu mengembangkan keunggulan-keunggulan  tersebut,  baik  keunggulan  dalam  hal  potensi  intelektual maupun bakat khusus yang bersifat keterampilan (gifted and talented). 
Strategi pembelajaran yang dilaksanakan  selama  ini masih bersifat massal, yang memberikan  perlakuan  dan  layanan  pendidikan  yang  sama  kepada  semua  peserta didik.  Padahal,  mereka  berbeda  tingkat  kecakapan,  kecerdasan,  minat,  bakat,  dan kreativitasnya.  Strategi  pelayanan  pendidikan  seperti  ini  memang    tepat  dalam konteks  pemerataan  kesempatan,  akan  tetapi  kurang  menunjang  usaha mengoptimalkan  pengembangan  potensi  peserta  didik  secara  cepat. Hasil  beberapa penelitian Depdikbud (1994) menunjukkan sekitar sepertiga peserta didik yang dapat digolongkan  sebagai  peserta  didik  berbakat  (gifted  and  talented) mengalami  gejala “prestasi kurang” (underachiever). 
Strategi  pelayanan  pendidikan  alternatif  dalam  manajemen  pendidikan  perlu dikembangkan  untuk  menghasilkan  peserta  didik  yang  unggul,  melalui  pemberian perhatian,  perlakuan  dan  layanan  pendidikan  berdasarkan  bakat  minat  dan kemampuannya.  Agar  pelayanan  pendidikan  yang  selama  ini  diberikan  kepada peserta didik mencapai sasaran yang optimal, maka pembelajaran harus diselaraskan dengan  potensi  peserta  didik.  Oleh  karena  itu  guru  perlu  melakukan  pelacakan potensi peserta didik.


 II. MEMAHAMI PESERTA DIDIK
Mengajar atau “teaching” adalah membantu peserta didik memperoleh  informasi, ide,  keterampilan,  nilai,  cara  berfikir,  sarana  untuk  mengekspresikan  dirinya,  dan cara-cara  belajar  bagaimana  belajar.  Sedangkan  pembelajaran  adalah  upaya  untuk membelajarkan  peserta  didik. Secara  implisit  dalam  pembelajaran  terdapat  kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode  untuk mencapai  hasil  pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode  didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti  dari  perencanaan  pembelajaran.  Dalam  hal  ini  istilah  pembelajaran  memiliki hakekat perencanaan atau perancangan  (disain) sebagai upaya untuk membelajarkan peserta  didik.  Itulah  sebabnya  dalam  belajar  peserta  didik  tidak  hanya  berinteraksi dengan  guru  sebagai  salah  satu  sumber  belajar,  tetapi  berinteraksi  juga  dengan keseluruhan  sumber  belajar  yang  lain.  Oleh  karena  itu  pembelajaran  menaruh perhatian pada “bagaimana membelajarkan peserta didik”, dan bukan pada “apa yang dipelajari peserta didik”. Dengan demikian pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai  subyek  bukan  sebagai  obyek.  Oleh  karena  itu  agar  pembelajaran  dapat mencapai hasil yang optimal guru perlu memahami karakteristik peserta didik.


A.  Tahap-tahap Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan  kemampuan  peserta  didik  sesuai  dengan  tugas-tugas perkembangannya  baik  dalam  aspek  kognitif  maupun  aspek  non-kognitif  melalui tahap-tahap sebagai berikut.
1.  Perkembangan kemampuan peserta didik usia sampai 5 tahun (TK). Pada usia ini, anak  (peserta  didik)  berada  dalam  periode  “praoperasional”  yang  dalam menyelesaikan  persoalan,  ditempuh  melalui  tindakan  nyata  dengan  jalan
memanipulasi benda atau obyek yang bersangkutan. Peserta didik belum mampu menyelesaikan  persoalan  melalui  cara  berpikir  logik  sistematik.  Kemampuan mengolah  informasi  dari  lingkungan  belum  cukup  tinggi  untuk  dapat menghasilkan  transformasi  yang  tepat.  Demikian  juga  perkembangan  moral peserta  didik  masih  berada  pada  tingkatan  moralitas  yang  baku.  Peserta  didik belum  sampai pada pemilihan kaidah moral  sendiri  secara nalar. Perkembangan nilai  dan  sikap  sangat  diperngaruhi  oleh  situasi  yang  berlaku  dalam  keluarga. Nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga akan diadopsi oleh peserta didik melalui proses  imitasi  dan  identifikasi.  Keterkaitan  peserta  didik  dengan  suasana  dan lingkungan keluarga sangat besar. 

2.  Perkembangan  kemampuan  peserta  didik  usia  6-12  tahun  (SD).  Pada  usia  ini peserta  didik  dalam  periode  operasional  konkrit    yang  dalam  menyelesaikan masalah  sudah  mulai  ditempuh  dengan  berpikir,  tidak  lagi  terlalu  terikat  pada keadaan nyata. Kemampuan mengolah  informasi  lingkungan  sudah berkembang sehingga  transformasi  yang  dihasilkan  sudah  lebih  sesuai  dengan  kenyataan. Demikian  juga  perkembangan  moral  anak  sudah  mulai  beralih  pada  tingkatan moralitas  yang  fleksibel  dalam  rangka menuju  ke  arah  pemilihan  kaidah moral sendiri  secara  nalar.  Perkembangan  moral  peserta  didik  masa  ini  sangat dipengaruhi  oleh  kematangan  intelektual  dan  interaksi  dengan  lingkungannya. Dorongan  untuk  keluar  dari  lingkungan  rumah  dan masuk  ke  dalam  kelompok sebaya mulai  nampak  dan  semakin  berkembang.  Pertumbuhan  fisik mendorong peserta didik untuk memasuki permainan yang membutuhkan otot kuat.

3.  Perkembangan kemampuan peserta didik usia 13-15  tahun (SLTP). Pada usia  ini peserta  didik  memasuki  masa  remaja,  periode  formal  operasional  yang  dalam perkembangan  cara  berpikir mulai meningkat  ke  taraf  lebih  tinggi,  absrak  dan rumit.  Cara  berpikir  yang  bersifat  rasional,  sistematik  dan  ekploratif  mulai berkembang pada  tahap  ini. Kecenderungan berpikir mereka mulai  terarah pada hal-hal  yang  bersifat  hipotesis,  pada masa  yang  akan  datang,  dan  pada  hal-hal yang  bersifat  abstrak.  Kemampuan  mengolah  informasi  dari  lingkungan  sudah semakin berkembang. 

B.  Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik
Tugas-tugas  perkembangan  peserta  didik  SLTP  pada  dasarnya  adalah  sebagai berikut :
1.  Mencapai  perkembangan  diri  sebagai  remaja  yang  beriman  dan  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.  Mempersiapkan  diri, menerima  dan  bersikap  positif  serta  dinamis  terhadap
perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri.
3.  Mencapai pola hubungan yang baik dengan  teman sebaya dalam peranannya
sebagai pria dan wanita.
4.  Mengarahkan diri pada peranan sosial sebagai pria atau wanita.
5.  Memantapkan  cara-cara  bertingkah  laku  yang  dapat  diterima  lingkungan
sosialnya.
6.  Mengenal kemampuan, bakat, minat serta arah perkembangan karir.
7.  Mengembangan  pengetahuan  dan  keterampilan  sesuai  dengan  kebutuhannya
untuk  melanjutkan  pelajaran  dan  atau  berperan  serta  dalam  kehidupan
masyarakat.
8.  Mengenal  gambaran  dan  mengembangan  sikap  tentang  kehidupan  mandiri,
baik secara emosional maupun sosial ekonomis.
9.  Mengenal  seperangkat  sistem  etika  dan  nilai-nilai  untuk  pedoman  hidup sebagai  pribadi,  anggota  masyarakat,  warga  negara,  dan  sebagai  makhluk Tuhan. Pemahaman  terhadap  peserta  didik  diperlukan  dalam  rangka membantu  peserta didik menjalani  tugas-tugas perkembangan  tersebut secara optimal, sehingga peserta didik memiliki kecakapan hidup dan mampu menjalani  realita dalam kehidupannya sesuai potensi yang ada pada dirinya.

III.  Bakat dan Kecerdasan Peserta Didik
Bakat  dan  kecerdasan  merupakan  dua  hal  yang  berbeda,  namun  saling  terkait. Bakat  adalah  kemampuan  yang merupakan  sesuatu  yang melekat  (inherent)  dalam diri  seseorang.  Bakat  peserta  didik  dibawa  sejak  lahir  dan  terkait  dengan  struktur otaknya. Secara genetik struktur otak  telah  terbentuk sejak  lahir,  tetapi berfungsinya otak  sangat  ditentukan  oleh  cara  peserta  didik  berinteraksi  dengan  lingkungannya. Biasanya  kemampuan  itu  dikaitkan  dengan  intelegensi  atau  kecerdasan,  dimana kecerdasan  atau  intelegensi  (Intelligence  Quotient)  merupakan  modal  awal  untuk bakat tertentu.
Potensi bawaan peserta didik sampai  menjadi bakat berkaitan dengan kecerdasan intelektual (IQ) peserta didik. Tingkat  intelektualitas peserta didik berbakat biasanya cenderung di atas rata-rata. Namun peserta didik yang  intelektualitasnya  tinggi  tidak selalu  menunjukkan    peserta  didik  berbakat.  Bakat  seni  dan  olahraga  misalnya, keduanya  memerlukan  strategi,  taktik,  dan  logika  yang  berhubungan  dengan kecerdasan. Dengan  demikian,  umumnya  peserta  didik  berbakat memang memiliki tingkat intelegensi di atas rata-rata. 
Peserta didik berbakat adalah peserta didik yang mampu mencapai prestasi yang tinggi  karena  mempunyai  kemampuan-kemampuan  yang  unggul.  Kemampuan-kemampuan tersebut meliputi :
1.  kemampuan intelektual umum (kecerdasan atau intelegensi) 
2.  kemampuan akademik khusus
3.  kemampuan berpikir kreatif-produktif
4.  kemampuan memimpin
5.  kemampuan dalam salah satu bidang seni
6.  kemampuan psikomotor (seperti dalam olah raga).
Bakat  yang  dimiliki  peserta  didik  tidak  terbatas  pada  satu  keahlian.  Jika  bakat
tersebut  dikembangkan  bisa menjadi  lebih  dari  dua  keahlian  yang  saling  berkaitan.
Misalnya  jika peserta didik suka menyanyi  tak  jarang pula  ia akan berbakat menari.
Jika peserta didik suka baca puisi biasanya peserta didik akan punya bakat seni peran,
dsb.
A. Tanda-tanda Bakat Peserta Didik
Berikut ini tanda-tanda bakat yang bisa tampak sejak dini pada peserta didik. 
1.  Mempunyai  ingatan  yang  kuat.  Contoh:  sanggup  mengingat  letak  benda-benda, tempat-tempat penyimpanan, lokasi-lokasi, dsb.
2.  Mempunyai  logika  dan  keterampilan  analitis  yang  kuat.  Contoh:  sanggup menyimpulkan, menghubung-hubungkan satu kejadian dengan kejadian lain.
3.  Mampu berpikir abstrak. Contoh: membayangkan sesuatu yang tidak tampak, kemampuan  berimajinasi  dan  asosiasi.  Misal,  membayangkan  keadaan  di bulan, di luar angkasa, atau tempat lain yang belum pernah dikunjunginya.
4.  Mampu membaca  tata  letak  (ruang). Contoh: menguasai  rute  jalan, ke mana harus berbelok, menyebutkan bentuk ruang.
5.  Mempunyai  keterampilan  mekanis.  Contoh:  pintar  bongkar  pasang  benda yang rumit.
6.  Mempunyai bakat musik dan seni.
7.  Luwes dalam atletik dan menari.
8.  Pintar bersosialisasi. Contoh: mudah bergaul, mudah beradaptasi. 
9.  Mampu memahami  perasaan manusia.  Contoh:  pandai  berempati,  baik  dan
peduli pada orang lain. 
10. Mampu memikat dan merayu. Contoh: penampilannya selalu  membuat orang
tertarik, mampu membuat orang mengikuti kemauannya, dsb.
Selain  memiliki  tanda-tanda  keunggulan  di  atas  peserta  didik  berbakat
mempunyai karakteristik negatif diantaranya :
1.  Mampu mengaktualisasikan pernyataan  secara  fisik berdasarkan pemahaman pengetahuan yang sedikit
2.  Dapat mendominasi diskusi
3.  Tidak sabar untuk segera maju ke tingkat berikutnya
4.  Suka ribut
5.  Memilih  kegiatan  membaca  dari  pada  berpartisipasi  aktif  dalam  kegiatan masyarakat, atau kegiatan fisik
6.  Suka melawan aturan, petunjuk-petunjuk atau prosedur tertentu
7.  Frustasi disebabkan tidak jalannya aktivitas sehari-hari
8.  Menjadi bosan karena banyak hal yang diulang-ulang
9.  Menggunakan humor untuk memanipulasi sesuatu
10. Melawan jadwal yang (hanya) didasarkan atas pertimbangan waktu saja bukan
atas pertimbangan tugas Keberhasilan  pendidikan  terkait  dengan  kemampuan  orang  tua  dan  guru  dalam
hal memahami peserta didik  sebagai  individu yang unik. Peserta didik harus dilihat
sebagai individu yang memiliki berbagai potensi yang berbeda satu sama lain, namun
saling  melengkapi  dan  berharga. Mungkin  dapat  diibaratkan  sebagai  bunga-bunga
aneka warna di  suatu  taman yang  indah, mereka akan  tumbuh dan merekah dengan
keelokannya masing-masing. 

B. Kecerdasan  Peserta Didik
Skala kecerdasan yang selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Menurut Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik,  kecerdasan  interpersonal,  kecerdasan  intrapersonal,  dan  kecerdasan naturalis.  Secara  rinci  masing-masing  kecerdasaan  tersebut  dijelaskan  sebagai berikut.
1.   Kecerdasan matematika-logika 
Kecerdasan  matematika-logika  menunjukkan  kemampuan  seseorang  dalam berpikir secara  induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan  logika, memahami dan  menganalisis  pola  angka-angka,  serta  memecahkan  masalah  dengan menggunakan kemampuan berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan matematika-logika  tinggi  cenderung  menyenangi  kegiatan  menganalisis  dan  mempelajari sebab  akibat  terjadinya  sesuatu.  Ia  menyenangi  berpikir  secara  konseptual, misalnya  menyusun  hipotesis  dan  mengadakan  kategorisasi  dan  klasifikasi terhadap apa  yang dihadapinya. Peserta didik  semacam  ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan  tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Apabila kurang memahami, mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut. Peserta didik  ini  juga  sangat  menyukai  berbagai  permainan  yang  banyak  melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti catur dan bermain teka-teki. 
 2.   Kecerdasan bahasa 
Kecerdasan  bahasa  menunjukkan  kemampuan  seseorang  untuk  menggunakan bahasa  dan  kata-kata,  baik  secara  tertulis maupun  lisan,  dalam  berbagai  bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Peserta didik dengan kecerdasan  bahasa  yang  tinggi  umumnya  ditandai  dengan  kesenangannya  pada kegiatan  yang  berkaitan  dengan  penggunaan  suatu  bahasa  seperti  membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Peserta didik seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat, misalnya terhadap  nama-nama  orang,  istilah-istilah  baru,  maupun  hal-hal  yang  sifatnya detail. Mereka  cenderung  lebih mudah  belajar  dengan  cara mendengarkan  dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, peserta didik ini umumnya memiliki  kemampuan  yang  lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  peserta  didik lainnya. 
3.   Kecerdasan musikal
Kecerdasan  musikal  menunjukkan  kemampuan  seseorang  untuk  peka  terhadap suara-suara  nonverbal  yang  berada  di  sekelilingnya,  termasuk  dalam  hal  ini adalah  nada  dan  irama.  Peserta  didik  jenis  ini  cenderung  senang  sekali mendengarkan  nada  dan  irama  yang  indah,  entah  melalui  senandung  yang dilagukannya  sendiri, mendengarkan  tape  recorder,  radio,  pertunjukan  orkestra, atau  alat  musik  dimainkannya  sendiri.  Mereka  juga  lebih  mudah  mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila dikaitkan dengan musik. 
4.   Kecerdasan visual-spasial 
Kecerdasan visual-spasial menunjukkan kemampuan seseorang untuk memahami secara  lebih  mendalam  hubungan  antara  objek  dan  ruang.  Peserta  didik  ini memiliki  kemampuan,  misalnya,  untuk  menciptakan  imajinasi  bentuk  dalam pikirannya  atau  kemampuan  untuk  menciptakan  bentuk-bentuk  tiga  dimensi seperti  dijumpai  pada  orang  dewasa  yang menjadi  pemahat  patung  atau  arsitek suatu bangunan. Kemampuan membayangkan  suatu bentuk nyata dan kemudian memecahkan  berbagai  masalah  sehubungan  dengan  kemampuan  ini  adalah  hal yang menonjol  pada  jenis  kecerdasan  visual-spasial  ini.  Peserta  didik  demikian akan  unggul, misalnya  dalam  permainan mencari  jejak  pada  suatu  kegiatan  di kepramukaan. 
5.   Kecerdasan kinestetik 
Kecerdasan  kinestetik  menunjukkan  kemampuan  seseorang  untuk  secara  aktif menggunakan  bagian-bagian  atau  seluruh  tubuhnya  untuk  berkomunikasi  dan memecahkan  berbagai masalah. Hal  ini  dapat  dijumpai  pada  peserta  didik  yang unggul  pada  salah  satu  cabang  olahraga,  seperti  bulu  tangkis,  sepakbola,  tenis, renang, dan  sebagainya,  atau bisa pula dijumpai pada peserta didik yang pandai menari, terampil bermain akrobat, atau unggul dalam bermain sulap. 
6.   Kecerdasan interpersonal 
Kecerdasan  interpersonal  menunjukkan  kemampuan  seseorang  untuk  peka terhadap  perasaan  orang  lain.  Mereka  cenderung  untuk  memahami  dan berinteraksi dengan orang  lain sehingga mudah bersosialisasi dengan  lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga  mencakup  kemampuan  seperti  memimpin,  mengorganisir,  menangani perselisihan  antar  teman, memperoleh  simpati  dari  peserta  didik  yang  lain,  dan sebagainya. 

7.   Kecerdasan intrapersonal 
 Kecerdasan  intrapersonal  menunjukkan  kemampuan  seseorang  untuk  peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan  maupun  kelemahan  yang  ada  pada  dirinya  sendiri.  Peserta  didik semacam ini senang melakukan instropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa diantaranya cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri. 

8.   Kecerdasan naturalis 
Kecerdasan  naturalis menunjukkan  kemampuan  seseorang  untuk  peka  terhadap lingkungan  alam,  misalnya  senang  berada  di  lingkungan  alam  yang  terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Peserta didik dengan kecerdasan seperti  ini cenderung suka mengobservasi  lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan,  jenis-jenis  lapisan  tanah,  aneka macam  flora  dan  fauna,  benda-benda angkasa, dan sebagainya.  Melalui  konsepnya  mengenai  multiple  intelligences  atau  kecerdasan  ganda  ini Gardner  mengoreksi  keterbatasan  cara  berpikir  yang  konvensional  mengenai kecerdasan  dari  tunggal menjadi  jamak. Kecerdasan  tidak  terbatas  pada  kecerdasan intelektual  yang  diukur  dengan menggunakan  beberapa  tes  inteligensi  yang  sempit saja,  atau  sekadar melihat  prestasi  yang  ditampilkan  seorang  peserta  didik melalui ulangan maupun  ujian  di  sekolah  belaka,  tetapi    kecerdasan  juga menggambarkan kemampuan  peserta  didik  pada  bidang  seni,  spasial,  olah-raga,  berkomunikasi,  dan cinta akan lingkungan. 
Secara rinci lima wilayah kecerdasan dijelaskan sebagai berikut. 1. Kemampuan mengenali emosi diri  Kemampuan  mengenali  emosi  diri  adalah  kemampuan  seseorang  dalam mengenali  perasaannya  sendiri  sewaktu  perasaan  atau  emosi  itu  muncul.  Ini sering  dikatakan  sebagai  dasar  dari  kecerdasan  emosional.  Seseorang  yang mengenali  emosinya  sendiri  adalah  bila  ia memiliki  kepekaan  yang  tajam  atas
perasaan  mereka  yang  sesungguhnya  dan  kemudian  mengambil  keputusan-keputusan  secara  mantap,  dalam  hal  ini  misalnya  sikap  yang  diambil  dalam menentukan berbagai pilihan seperti memilih sekolah, sahabat, pekerjaan, sampai soal pasangan hidup. 
2.   Kemampuan mengelola emosi 
Kemampuan  mengelola  emosi  adalah  kemampuan  seseorang  untuk mengendalikan  perasaannya  sendiri  sehingga  tidak meledak  dan  akhirnya  dapat mempengaruhi  perilakunya  secara  salah.  Mungkin  dapat  diibaratkan  sebagai seorang  pilot  pesawat  yang  dapat  membawa  pesawatnya  ke  suatu  kota  tujuan kemudian mendaratkannya secara mulus. Misalnya, seseorang yang sedang marah dapat mengendalikan kemarahannya secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesalinya di kemudian hari.
3.   Kemampuan memotivasi diri 
Kemampuan memotivasi  diri  adalah  kemampuan memberikan  semangat  kepada diri  sendiri  untuk melakukan  sesuatu  yang  baik  dan  bermanfaat. Dalam  hal  ini terkandung  unsur  harapan  dan  optimisme  yang  tinggi  sehingga  seseorang memiliki kekuatan semangat untuk melakukan aktivitas  tertentu, misalnya dalam hal belajar, bekerja, menolong orang lain, dan sebagainya. 
4.   Kemampuan mengenali emosi orang lain 
Kemampuan  mengenali  emosi  orang  lain  adalah  kemampuan  untuk  mengerti perasaan  dan  kebutuhan  orang  lain  sehingga  orang  lain  akan  merasa  senang karena  dimengerti  perasaannya.  Kemampuan  ini  sering  pula  disebut  sebagai kemampuan  berempati,  mampu  menangkap  pesan  nonverbal  dari  orang  lain. Dengan demikian, peserta didik-peserta didik ini akan cenderung disukai orang. 
5.   Kemampuan membina hubungan 
Kemampuan  membina  hubungan  adalah  kemampuan  untuk  mengelola  emosi orang  lain  sehingga  tercipta  keterampilan  sosial  yang  tinggi  dan  membuat pergaulan  seseorang  menjadi  lebih  luas.  Peserta  didik  dengan  kemampuan  ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul, dan menjadi lebih populer.  Dari  uraian  di  atas  dapat  disimpulkan  betapa  pentingnya  kecerdasan  emosional dikembangkan  pada  diri  peserta  didik.  Banyak  dijumpai  peserta  didik  yang  begitu cerdas  di  sekolah,  begitu  cemerlang  prestasi  akademiknya,  namun  tidak  mampu mengelola  emosinya,  seperti  mudah  marah,  mudah  putus  asa,  atau  angkuh  dan sombong, sehingga prestasi tersebut tidak banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata kecerdasan  emosional  perlu  lebih  dihargai  dan  dikembangkan  pada  peserta  didik sejak  usia  dini  karena  hal  inilah  yang mendasari  keterampilan  seseorang  di  tengah masyarakat  kelak  sehingga  akan  membuat  seluruh  potensinya  dapat  berkembang secara lebih optimal. 

 IV. PERANAN  GURU  DALAM  MENGEMBANGKAN  POTENSI  PESERTA
DIDIK
Dalam  Undang-undang  Nomor  20  Tahun  2003  tentang  Sistem  Pendidikan Nasional pasal 39 ayat (2) menyebutkan pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas  merencanakan  dan  melaksanakan  proses  pembelajaran,  menilai  hasil pembelajaran, melakukan  pembimbingan  dan  pelatihan,  serta melakukan  penelitian dan  pengabdian  kepada masyarakat,  terutama  bagi  pendidik  pada  perguruan  tinggi. Sedangkan dalam pasal 32 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan  bagi  peserta  didik  yang  memiliki  tingkat  kesulitan  dalam  mengikuti proses  pembelajaran  karena  kelainan  fisik,  emosional,  mental,  sosial,  dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Bagaimana  hal  ini  dapat  diwujudkan  pada  suasana  pembelajaran  yang  dapat dinikmati  oleh  peserta  didik?  Jawabannya  adalah  pembelajaran  menggunakan pendekatan kompetensi, antara lain dalam proses pembelajaran  guru : 
1.  memberikan  kesempatan  kepada  peserta  didik  untuk  bermain  dan berkreativitas, 
2.  memberi suasana aman dan bebas secara psikologis, 
3.  disiplin yang tidak kaku, peserta didik boleh mempunyai gagasan sendiri dan dapat berpartisipasi secara aktif
4.  memberi kebebasan berpikir kreatif dan partisipasi secara aktif.
Semua  ini  akan memungkinkan  peserta  didik mengembangkan  seluruh  potensi
kecerdasannya  secara  optimal.  Suasana  kegiatan  belajar-mengajar  yang  menarik, interaktif,  merangsang  kedua  belahan  otak  peserta  didik  secara  seimbang, memperhatikan  keunikan  tiap  individu,  serta  melibatkan  partisipasi  aktif  setiap peserta didik akan membuat seluruh potensi peserta didik berkembang secara optimal.
Selanjutnya  tugas  guru  adalah  mengembangkan  potensi  peserta  didik  menjadi kemampuan yang maksimal.


 VI. PENUTUP 
Berbicara  masalah  pendidikan  peserta  didik  kiranya  tak  bisa  lepas  dari pemahaman tentang perkembangan jiwa peserta didik. Peserta didik bukanlah sekadar robot yang bisa diprogram begitu saja sehingga bisa bergerak atas kemauan guru atau orang  tua.  Peserta  didik  adalah  individu  unik  yang  mempunyai  eksistensi,  yang memiliki  jiwa  sendiri,  serta mempunyai  hak  untuk  tumbuh  dan  berkembang  secara optimal  sesuai  dengan  iramanya masing-masing  yang  khas.  Peserta  didik  bagaikan aneka  macam  bunga  elok  di  taman  sari  yang  indah. Mereka  memiliki  pesonanya masing-masing  sehingga  tidak  bisa  diseragamkan  begitu  saja  atau  dipangkas  sama rata. Mereka  sungguh memerlukan  perlakuan  khusus  dan  individual  selain  sekadar perlakuan kolektifikasi. 

0 komentar:

Poskan Komentar

SMS GRATIS


Make Widget