Senin, 16 Januari 2012

HADITS PADA MASA SAHABAT


HADITS PADA MASA SAHABAT

1. Sahabat adalah orang yang bertemu dan hidup bersama Rasul minimal setahun lamanya ( Ahli Ususl), Jumhur Muhadditsin - sahabat orang yang bertemu dengan Rasul dengan pertemuan yang wajar sewaktu rasul masih hidup, dalam keadaan Islam lagi iman, Al-Jahidh ulama beraliran Mu'tazilah - sahabat orang yang pernah bergaul dengan dan meriwayatkan hadits dari padanya, Ulama Ushul - sahabat orang yang berjumpa dengan Rasul, lama pula bersahabat dengan beliau, walaupun tidak meriwayatkan hadits, Loght dan 'Uruf - sahabat mereka yang sungguh-sungguh  menyertai Nabi, seduduk, sejalan dengan Nabi dalam sebagian waktu.

2. Ada duabelas Thabaqot : (1) mereka yang lebih dulu masuk Islam, yaitu orang yang lebih dulu beriman di Makkah, (2) Anggota Dar an-Nadwah yang memeluk Islam sesudah Umar masuk Islam, (3) para sahabat yang hijrah ke habasyah pada tahun k5-5 sesudah Rasulullah diutus, (4) pengikut perjanjian 'aqobah pertama, (5) pengikut perjanjian aqobah kedua yang memeluk Islam sesudah aqobah pertama, (6) sahabat muhajirin yang sampai di  Madinah, ketika Nabi masih berada di Quba, menjelang memasuki Madinah, (7) pengikut perang badar, (8) para sahabat yang hijrah di antara peristiwa perang badar dan Hudaibiyah, (9) para sahabat yang melakukan bai'at di bawah pohon di Hudaibiyah, (10) para sahabat yang  hijrah sebelum penaklukan Makkah dan sesudah peristiwa Hudaibiyah, (11) para sahabat yang memeluk Islam pada saat penaklukan Makkah, (12) anak-anak yang melihat Nabi pada hari penaklukan Makkah dan Haji Wada'.

3. Cara meriwayatkan hadits : (1) Periwayatan Lafzi - redaksinya - matannya persis seperti yang diwurudkan Rasul. Bisa dilakukan apabila mereka (sahabat) hafal benar apa yang disabdakan Rasul.  Para sahabat meriwayatkan hadits melalui cara ini, mereka berusaha agar dalam meriwayatkan hadits sesuai dengan redaksi Rasul, bukan redaksi dari mereka. (2) Periwayatan Maknawi : sahabat berpendapat dalam keadaan darurat, karena tidak ada lafal asli dari Rasul, maka boleh meriwayatkan dengan maknawi. Artinya periwayatan hadits yang matannya tidak persis sama dengan yang dari Rasul akan tetapi isi atau makna akan tetap terjaga secara utuh,  sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasul tanpa ada perubahan sedikitpun.

D. Perkembangan Hadits Pada masa Khulafaur Rosyidin (11 H – 40 H)

Periode ini disebut عصرالتثبت والاقلال من الرواية  Nabi Muhammad SAW. Wafat pada tahun 11 H. Kepada umatnya beliau meninggalkan dua pegangan sebagai dasar bagi pedoman hidupnya yakni Al-Qur’an dan Assunnah
Pada Khalifah dari Khulafaur Rosyidin sejak Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Abu Bakar sebagai Khalifah pertama secara sungguh-sungguh segera mengadakan usaha pengumpulan Al-Qur’an atas usulan Umar. Yang pada Nabi SAW ayat-ayat Al-Qur’an sudah tertulis seluruhnya tapi belum terkumpul.
Adapun perhatian Khulafaur Rosyidin terhadap hadits pada dasarnya adalah :
1.      Para  Khulafaur Rosyidin dan para sahabat berpegang bahwa hadits adalah dasar Tasyri’ maka setiap amalan syari’at islam. Selalu berpedoman kepada hadits bersama-sama dan atau selalu berpedoman kepada ketentuan Al-Qur’an
2.      Para sahabat berusaha mentablighkan segala hadits yang diterima mereka. Hal ini dilakukan atas dasar hadits rowi : بلغوا عنى ولو اية  (رواه البخاري)   
sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat (HR. Al Bukhori)
            Namun periwayatan Hadits dipermulaan masa sahabat terutama pada masa Abu Bakar dan Umar masih terbatas sekali, disampaikan kepada yang memerlukan saja, belum bersifat pelajaran.
           
Dalam prakteknya, cara sahabat meriwayatkan Hadits ada dua, yakni :
1.      Dengan lafadz asli, yakni menurut lafadzh yang mereka terima dari Nabi SAW. Yang mereka hafal benar lafadzh dari Nabi.
2.      Dengan maknanya saja, yakni mereka meriwayatkan makna nya bukan dengan lafadzhnya karena tidak hafal lafadzh yang asli dari Nabi SAW.

Suasana masyarakat masa khulafa al-rasyidin terutama pada masa Abu Bakar dan Umar. Pada umumnya baik dan tenteram. Namun timbul benih-benih kekacauan yang bisa merusak Agama islam dan menunggu pengamalan umat umat islam terhadap agama nya, yakni antara lain :
1.      Murtadnya orang sepeninggal Nabi SAW. Diawal pemerintahan Abu Bakar mereka tidak mau memayar zakat. Gerakan ini dapat ditumpas oleh Abu Bakar, namun bagaimanapun kasus pembangkangan dan insiden  ghazwah al-riddah dan aksi penumpasannya membawa efek yang kurang menguntungkan bagi pembinaan masyarakat islam.
2.      masuknya orang-orang Yahudi yang bermuka dua mereka. Mereka menganut agama islam bukan atas keikhlasan tapi malah bertujuan untuk menghancurkan islam dari dalam pelopornya abdulloh ibn saba’
3.      ekses dari kebijaksanaan (policy) ustman ibn affan dalam pengangkatan kerabatnya untuk jabatan pemerintah. Menimbulkan ketidaksenangan rakyat.
Atas suasana tersebut diatas maka mendorong para shahabat untuk berhati-hati dalam soal periwayatan hadits baik dalam menerima maupun dalam menyampaikannya.
Tindaklah berhati-hati (ihtiyatin) para sahabat dalam periwayatan hadits berupa :
1.      Menyedikitkan riwayat, yakni hanya mengeluarkan Hadits dalam batas kadar kebutuhan primer dalam pengajaran dan tuntunan pengalaman agama.
2.      Menepis dalam penerimaan Hadits, yakni meneliti kedaan rawi dan marwi setiap hadits.
3.      Melarang meriwayatkan secara luas hadits yang belum dapat difahami umum.


HADITS PADA MASA SAHABAT
1. Sahabat adalah orang yang bertemu dan hidup bersama Rasul minimal setahun lamanya (Ahli Ususl), Jumhur Muhadditsin - sahabat orang yang bertemu dengan Rasul dengan pertemuan yang wajar sewaktu rasul masih hidup, dalam keadaan Islam lagi iman, Al-Jahidh ulama beraliran Mu'tazilah - sahabat orang yang pernah bergaul dengan dan meriwayatkan hadits dari padanya, Ulama Ushul - sahabat orang yang berjumpa dengan Rasul, lama pula bersahabat dengan beliau, walaupun tidak meriwayatkan hadits, Loght dan 'Uruf - sahabat mereka yang sungguh-sungguh menyertai Nabi, seduduk, sejalan dengan Nabi dalam sebagian waktu.
2. Ada duabelas Thabaqot : (1) mereka yang lebih dulu masuk Islam, yaitu orang yang lebih dulu beriman di Makkah, (2) Anggota Dar an-Nadwah yang memeluk Islam sesudah Umar masuk Islam, (3) para sahabat yang hijrah ke habasyah pada tahun k5-5 sesudah Rasulullah diutus, (4) pengikut perjanjian 'aqobah pertama, (5) pengikut perjanjian aqobah kedua yang memeluk Islam sesudah aqobah pertama, (6) sahabat muhajirin yang sampai di Madinah, ketika Nabi masih berada di Quba, menjelang memasuki Madinah, (7) pengikut perang badar, (8) para sahabat yang hijrah di antara peristiwa perang badar dan Hudaibiyah, (9) para sahabat yang melakukan bai'at di bawah pohon di Hudaibiyah, (10) para sahabat yang hijrah sebelum penaklukan Makkah dan sesudah peristiwa Hudaibiyah, (11) para sahabat yang memeluk Islam pada saat penaklukan Makkah, (12) anak-anak yang melihat Nabi pada hari penaklukan Makkah dan Haji Wada'.
3. Cara meriwayatkan hadits : (1) Periwayatan Lafzi - redaksinya - matannya persis seperti yang diwurudkan Rasul. Bisa dilakukan apabila mereka (sahabat) hafal benar apa yang disabdakan Rasul. Para sahabat meriwayatkan hadits melalui cara ini, mereka berusaha agar dalam meriwayatkan hadits sesuai dengan redaksi Rasul, bukan redaksi dari mereka. (2) Periwayatan Maknawi : sahabat berpendapat dalam keadaan darurat, karena tidak ada lafal asli dari Rasul, maka boleh meriwayatkan dengan maknawi. Artinya periwayatan hadits yang matannya tidak persis sama dengan yang dari Rasul akan tetapi isi atau makna akan tetap terjaga secara utuh, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasul tanpa ada perubahan sedikitpun.

0 komentar:

Poskan Komentar

SMS GRATIS


Make Widget